Celetukan pikiran tentang masa depan

Pernah gasieehh lagi duduk diam dan berpikir, "kelak kalau aku punya anak, aku nggak mau mereka merasakan apa yang aku rasakan sekarang"?

Belakangan ini, pikiran itu sering mampir di kepalaku. Bukan karena aku benci pada keadaan, tapi karena aku belajar banyak dari luka. Aku sedang belajar tentang sosok orang tua seperti apa yang ingin aku wujudkan di masa depan—seorang figur yang menjadi rumah, bukan sumber ketakutan.

Jujur saja, hubunganku dengan orang tuaku saat ini memberiku banyak pelajaran hidup, meski lewat cara yang cukup menyakitkan. Ada kalanya kata-kata mereka meninggalkan bekas yang lebih dalam dari luka fisik. Ada ekspektasi yang menyesakkan, atau mungkin pengabaian yang terasa dingin.


Aku tidak menyalahkan mereka sepenuhnya karena mungkin mereka adalah produk dari pola asuh yang sama di masa lalu. Tapi, aku memutuskan bahwa, rantai ini harus putus di aku.

Jika suatu saat nanti aku dipercaya memiliki keluarga, keknya aku bakal berjanji untuk beberapa hal, something like 

Ruang bicara mereka, but Bukan Sekadar Mendengar, Aku ingin anakku merasa aman untuk bercerita tentang kegagalan mereka tanpa takut dihakimi. Aku ingin menjadi orang pertama yang mereka cari saat dunia terasa jahat.

Terus Aku tidak akan pernah bilang "gitu aja nangis." Aku ingin mereka tahu bahwa emosi mereka valid, dan menangis bukanlah tanda kelemahan.

Aku ingin selalu ada untuk Mendukung, Bukan untum Menuntut.... Aku ingin mereka tumbuh menjadi diri mereka sendiri, bukan menjadi versi sukses hasil dari ambisi pribadiku yang tidak tercapai.

Memang..... Tidak ada orang tua yang sempurna. Tapi aku ingin menjadi orang tua yang cukup berani untuk bilang, "Maafkan Ibu, ibu salah sayang,"tanpa merasa harga diriku jatuh.

Targetku sederhana namun bermakna, Aku ingin anakku tidak butuh waktu lama untuk menyembuhkan trauma masa kecil mereka saat mereka dewasa nanti.


Aku ingin mereka tumbuh dengan memori tentang tawa, dukungan saat mereka jatuh, dan pelukan yang selalu hangat. Aku ingin rumah "kami" (aku anakku dan suamiku) menjadi tempat yang paling mereka rindukan, bukan tempat yang ingin mereka hindari.

Menjadi orang tua yang baik dimulai dari sekarang, adalah dengan cara aku menyembuhkan diriku sendiri terlebih dahulu.

Aku belajar untuk memaafkan, belajar untuk sabar, dan belajar untuk mencintai diriku sendiri agar kelak aku punya "cadangan cinta" dan "tangki cinta" yang meluap untuk mereka.



Komentar

Postingan Populer