Malam dan seribu kata kepala

Malam ini, aku berada di sebuah tempat yang seharusnya "seru". Ada banyak suara, tawa, dan percakapan yang berlalu-lalang di sekitarku. But di dalam sini, di dalam kepalaku, suasananya sangat berbeda. Aku merasa asing. Aku merasa ingin segera menghilang dan menyatu dengan keheningan entah dipojok lapangan atau tempat terbaik yaa..di kamarku.


Aku baru sadar bahwa rasa tidak nyamanku malam ini bukan cuma karena keramaian. Ada beban  yang terbawa di pundakku. Setiap kali aku ingin berkata, "Aku ingin pulang," selalu ada suara di masa lalu yang membisikkan ketakutan. Memori tentang sebuah penolakan yang berakhir dengan kekacauan... tentang ruang pribadiku yang diobrak-abrik hanya karena aku mencoba jujur pada kondisiku.


Ternyata, menjadi people pleaser (cari dah artinya) itu bukan karena aku terlalu baik. Tapi ini adalah caraku bertahan hidup. Aku takut akan kemarahan orang lain. Aku takut jika aku mengutamakan diriku sendiri, duniaku akan hancur seperti lemari bajuku waktu itu.


Tadi, aku sudah mencoba bersuara. Aku bilang aku ingin pulang. Tapi rasanya seperti suaraku tertelan bisingnya acara ini. Tidak digubris. Rasanya menyakitkan ketika kita sudah mengumpulkan keberanian luar biasa untuk bicara, tapi dunia tetap tidak mau mendengar.


Saat ini aku masih menunggu. Menunggu seseorang, menunggu waktu, menunggu keadaan yang memungkinkanku untuk bernapas lega. Aku merasa ingin hilang saja, agar tidak perlu lagi merasa "tidak enak" pada orang lain sementara hatiku sendiri sedang menjerit.

Mungkin malam ini aku belum bisa pulang secepat yang aku mau. Mungkin malam ini ketakutanku masih menang. Tapi, aku ingin mencatat ini sebagai bukti bahwasanya aku sudah mencoba untuk memvalidasi rasa yang tidak nyaman ini.... Bahwa aku tidak bersalah karena merasa lelah. Aku tidak bersalah!


Suatu hari nanti, aku ingin memiliki keberanian untuk pulang tanpa rasa takut. Dengan pikiran Suatu hari nanti, kata "tidak" akan menjadi kata yang tidak lagi menghantuiku.


Untuk sekarang... aku akan mencoba bertahan sedikit lagi. Hanya sedikit lagi.


Ada kalimat dikit siratan dari yang aku alami

"Bukan sakit fisik yang membuatku ingin menangis, tapi kenyataan bahwa 'rem' dalam dirinya tidak bekerja untukku. Aku baru sadar, cinta bukan hanya soal seberapa banyak tawa yang kita bagi, tapi seberapa kuat keinginan seseorang untuk tetap menjagamu, bahkan saat kamu sedang tidak menjaga dirimu sendiri."

Komentar

Postingan Populer