Pikiran jam rawan
Pernahkah kamu bangun di pagi hari, melihat ke cermin, dan merasa tidak mengenali orang yang ada di sana?
Bukan karena fisikmu berubah, tapi karena jiwamu terasa kosong.
Itulah yang aku rasakan belakangan ini. Aku sedang kehilangan arah, dan lebih menakutkan lagi, aku merasa kehilangan diriku sendiri.
Biasanya, aku tahu apa yang aku mau. Aku punya daftar ambisi, hobi yang membuatku bersemangat, dan opini yang kuat tentang dunia. Namun sekarang, semuanya terasa abu-abu (warna kesukaanku) Hobi yang dulu menyenangkan kini terasa seperti beban. rutinitas yang dulu bermakna kini hanya terasa seperti mekanisme otomatis untuk bertahan hidup.
Rasanya kadang seperti saat menonton film tentang hidupku sendiri, tapi bedanya aku bukan pemeran utamanya. Aku hanya penonton yang dipaksa melihat karakter di layar yang menjalankan hari-harinya tanpa gairah.
Aku pernah mendengar celetukan seseorang;
"Terkadang kita harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan yang seharusnya kita lalui."
Dulu, aku benci ketidakpastian. Aku ingin semua jawaban tersedia saat itu juga. Tapi di titik ini, aku mulai menyadari satu hal: Tidak apa-apa jika saat ini aku tidak tahu siapa diriku.
Mungkin ini adalah waktu bagiku untuk berhenti sejenak. Berhenti berlari mengejar sesuatu yang bahkan tidak aku inginkan. Mungkin, kehilangan arah adalah cara semesta memintaku untuk pulang—bukan ke tempat tertentu, tapi ke dalam diriku yang paling dalam.
Aku belum menemukan jalan keluarnya. Aku masih di sini, di tengah kabut. Tapi setidaknya, sekarang aku tidak lagi mencoba berlari dalam gelap.
Terima kasih sudah membaca curahan hati yang berantakan ini. Terkadang, menulis adalah satu-satunya cara agar aku merasa sedikit lebih nyata.

Komentar
Posting Komentar