Maaf
Lagi duduk diam di sudut kamar, memandangi pantulan diri di cermin, lalu tiba tiba menyadari bahwa orang yang paling sering aku lukai bukanlah orang lain, melainkan diriku sendiri.
Hmmmm....
Kita sering kali begitu mudah mengobral kata maaf kepada orang asing. Kita merasa bersalah saat tak sengaja menyenggol bahu seseorang di jalan, atau merasa berdosa saat gagal memenuhi ekspektasi orang lain. Namun, kepada diri sendiri, kita justru menjadi hakim yang paling kejam. Kita menuntut kesempurnaan, memaksanya terus berlari, dan tak jarang membiarkannya terluka demi menjaga perasaan dunia luar.
(Posisinya aku lagi pms hari pertama, mood swing bingit trs kek..)
Malam ini, ego ku runtuh. Aku ingin berhenti berdebat dengan isi kepala, dan mengambil jeda untuk berbicara pada jiwa yang sudah terlalu lama diabaikan.
Kayaknya langkah pertama untuk sembuh adalah jujur pada rasa sakit.
Selama ini, mungkin aku terlalu sering memakai topeng "baik-baik saja". tertawa di saat ingin menangis, dan mengatakan "iya" di saat seluruh batin meneriakkan kata "tidak", mengorbankan kedamaian demi penerimaan, seolah-olah kebahagiaan ku berada di urutan paling buncit dalam daftar prioritas hidup.
Sambil menatap kilas balik perjalanan yang sudah terlewati, ada satu pengakuan jujur yang inginku bisikkan pada hati ini:
"Untuk semua mimpi yang sengaja dikubur karena takut gagal, untuk semua suara yang dibungkam karena takut ditolak, dan untuk setiap kali aku membiarkan diriku diinjak-injak hanya demi kedamaian semu...maaf sudah menjadi pengecut"
Maaf karena dulu tidak cukup berani untuk membela diri sendiri. Maaf karena membiarkan keraguan mengambil alih kemudi kehidupan, hingga akhirnya aku kehilangan arah.
Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini, meski jalannya tidak pernah mudah. Terimakasih sudah berjuang dengan sangat baik, dan mulai sekarang, aku harap langkah ini diiringi dengan pundak yang lebih ringan.

Komentar
Posting Komentar