Yapping

Katanya “ada aku di sini”, laguk ape? Kalimat itu akhirnya cuma jadi pemanis biwih lek awal doang, sekadar penenang jangka pendek yang cepat kedaluwarsa. Begitu realita datang, yang tersisa cuma sepi yang makin berisik.

Lelah banget rasanya. Di saat butuh ruang untuk sekadar didengar, yang didapat malah tembok dingin. Tidak ada apresiasi untuk hal-hal besar yang sudah diperjuangkan mati-matian, tidak ada dukungan pas lagi benar-benar jatuh. 

Tessa Yang paling menyakitkan adalah ketika memberanikan diri untuk bilang kalau sedang sedih atau terluka, bukannya dirangkul atau divalidasi emosinya, tapi malah disuguhi benteng pertahanan diri. Mereka sibuk membela diri, sibuk merasa paling benar, seolah-olah rasa sakit yang dirasakan ini cuma karangan atau berlebihan.

Pada akhirnya, kalimat “ada aku di sini” itu tidak pernah benar-benar berarti "aku ada untuk menopangmu". Itu cuma kalimat penenang biar suasana cepat selesai, biar tidak perlu repot-repot peduli lebih dalam.

Capek harus memaklumi terus. Ternyata berada di dekat orang yang katanya "ada", tapi sikapnya bikin merasa makin sendirian, itu jauh lebih menyiksa daripada benar-benar berjuang sendiri dari awal. 

Mau berharap ke siapa lagi? Pada akhirnya mau keluarga, mau teman, sama saja. Sama-sama bikin kecewa dengan cara yang berbeda, sama-sama cuma ada kalau lagi pas dan luang, tapi hilang pas kita benar-benar butuh ditopang.

Komentar

Postingan Populer